Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Hadapi El Niño, Petani Dompu Diminta Adaptif Pilih Komoditas Tahan Kekeringan

Hadapi El Niño, Petani Dompu Diminta Adaptif Pilih Komoditas Tahan Kekeringan 


Media Transrevolusi group Com NTB. —  Menghadapi potensi dampak El Niño dan kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Dompu, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu  mendorong petani untuk terus beradaptasi terhadap kondisi iklim, terutama dalam menentukan jenis komoditas yang akan ditanam pada musim tanam.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu Syahrul Ramadhan , SP. Di wawancarai oleh media Transrevolusi group Com NTB, Selasa 15/09/2026, pada ruangan kantor nya, menyampaikan bahwa petani di sejumlah wilayah selama ini telah menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan memilih komoditas yang relatif lebih tahan terhadap kondisi kekurangan air.

Menurutnya, pada Musim Kemarau (MK) I maupun MK II, petani tidak selalu memaksakan penanaman padi apabila kondisi ketersediaan air tidak memungkinkan. Sebagian petani justru memilih mengganti komoditas dengan tanaman yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi lahan dan iklim.

“Petani kita cukup cerdas dalam memilih komoditas yang tahan terhadap kekeringan. Setelah padi, yang biasanya ditanami jagung, sekarang di beberapa wilayah mereka lebih memilih kacang hijau maupun kacang kedelai sebagai langkah mengantisipasi kekurangan air,” jelasnya.

Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu bentuk strategi adaptasi petani terhadap perubahan kondisi iklim. Pemilihan komoditas yang membutuhkan relatif lebih sedikit air diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan.

Selain itu, pemanfaatan lahan yang memiliki rembesan atau sumber air juga menjadi salah satu strategi petani untuk mempertahankan produktivitas pertanian.

Kadis menjelaskan, terdapat sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami dampak kekeringan, namun berkat berbagai upaya dan dukungan sarana pengairan, tanaman pertanian masih dapat dipertahankan hingga memasuki masa panen.

Pemerintah daerah juga telah memberikan dukungan melalui bantuan pompa air untuk membantu petani memanfaatkan sumber-sumber air yang tersedia, termasuk air permukaan maupun sumber air dari kawasan yang memiliki rembesan.

“Di beberapa wilayah memang pernah terjadi dampak kekeringan. Namun, hari ini sudah ada yang panen. Kami pernah membantu dengan alokasi pompa air untuk mengeksploitasi air permukaan maupun sumber air yang sebelumnya terbuang dari lahan-lahan rembesan,” ungkapnya.

Dorong Optimalisasi Sumber Air

Selain bantuan pompa, pemerintah juga terus mendorong optimalisasi infrastruktur irigasi yang sudah tersedia. Program dukungan irigasi dari pemerintah pusat maupun jaringan irigasi eksisting diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petani.

Menurutnya, keberadaan sumber air yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal dapat menjadi alternatif untuk mempertahankan pertanaman, khususnya di wilayah yang mulai mengalami tekanan akibat kekeringan.

Dengan dukungan pompa dan sarana irigasi, air dari sumber-sumber yang tersedia dapat diangkat dan dialirkan menuju lahan pertanian sesuai kebutuhan.

“Di samping ada program irigasi dari pusat, jaringan irigasi yang eksisting dan yang sudah dibantu melalui program-program lainnya juga bisa dimanfaatkan. Air-air tersebut dapat diangkat untuk mendukung pertanaman yang ada di wilayah masing-masing,” katanya.

Petani Diminta Tidak Terpaku pada Satu Komoditas

Menghadapi ancaman kekeringan, pemerintah menilai pola tanam menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan petani. Diversifikasi komoditas menjadi pilihan strategis agar produktivitas pertanian tetap terjaga meskipun terjadi keterbatasan air.

Kacang hijau dan kacang kedelai menjadi salah satu pilihan yang mulai dilirik petani di sejumlah wilayah setelah musim tanam padi. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa petani Dompu memiliki kemampuan membaca kondisi alam dan menyesuaikan pola usaha taninya.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu juga terus mendorong agar petani memanfaatkan sumber daya air secara efisien, memperhatikan kalender musim, serta memilih komoditas berdasarkan kondisi agroklimat masing-masing wilayahnya ucapnya.

Bagi pemerintah, menghadapi El Niño bukan semata-mata persoalan kekurangan air, tetapi juga bagaimana membangun strategi adaptasi pertanian agar petani tetap mampu berproduksi dan menjaga ketahanan pangan daerah ujar kadis..(BYOS)


Posting Komentar

0 Komentar