Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Asyiknya Gerak Jalan 17 KM Bersama Bupati Dompu: Loreng, Semangat, dan Kenangan yang Tak Terlupakan

Asyiknya Gerak Jalan 17 KM Bersama Bupati Dompu: Loreng, Semangat, dan Kenangan yang Tak Terlupakan


Oleh: Firmansyah, S.Psi. , M.MKes.Koordinator Subbag Komunikasi Pimpinan, Bagian Prokopim Sekretariat Daerah Kabupaten Dompu.


Media TransRevolusi Group Com NTB. — Ada pengalaman menarik dan penuh kesan saat mengikuti Gerak Jalan 17 Kilometer dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Rabu (12/8/2026).

Bagi kami, gerak jalan ini bukan sekadar kegiatan untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan. Lebih dari itu, perjalanan 17 kilometer menjadi momentum untuk mengenang kembali betapa panjang, berat, dan penuh pengorbanannya perjuangan para pahlawan dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Yang membuat perjalanan kali ini terasa semakin istimewa adalah kesempatan berjalan bersama Bupati Dompu, Bambang Firdaus, SE, dalam satu regu.

Pagi-pagi kami sudah berkumpul. Seragam loreng dikenakan, sepatu PDL dipoles hingga mengkilap, topi dipasang. Ada pakaian yang pas di badan, ada pula yang kedodoran sehingga justru mengundang tawa. Seketika kami merasa seperti "pasukan dadakan".

Ketika Bupati Bambang Firdaus hadir dengan pakaian loreng yang sama, suasana pun berubah. Yang tadinya bercanda mulai terlihat lebih tegap. Ada rasa bangga sekaligus geli dalam hati: "Wah, ternyata kami satu tim dengan orang nomor satu di Kabupaten Dompu."

Pakaian loreng menjadi keunikan tersendiri. Biasanya peserta gerak jalan tampil dengan pakaian olahraga, putih-putih, batik, atau pakaian bernuansa lainnya. Kali ini, loreng ala militer membuat penampilan regu terasa berbeda.

Bukan sekadar soal penampilan. Seragam tersebut seolah menjadi vitamin tambahan untuk membangun rasa percaya diri, kekompakan, dan semangat sepanjang perjalanan.

Memasuki kilometer pertama hingga kelima, tenaga masih terasa penuh. Yel-yel "Indonesia Raya!" disambut dengan pekikan "Merdeka! Merdeka! Merdeka!". Yel-yel Dompu pun berkumandang dan dijawab lantang:

"Maju! Maju! Maju!"

Suara itu menggema sepanjang jalan. Semangat semakin membara.

Sorak-sorai masyarakat di sepanjang rute juga menjadi penyemangat luar biasa. Panas matahari, keringat yang mengalir, kaki mulai terasa pegal dan napas mulai berat seolah hilang sejenak ketika masyarakat memberikan dukungan.

Apalagi ketika warga melihat Bupati Dompu berjalan bersama dalam satu barisan. Ada yang melambaikan tangan, mengabadikan dengan kamera ponsel, bahkan memberikan semangat dari pinggir jalan.

Memasuki kilometer 6 hingga 12, tantangan mulai terasa. Kaki mulai panas, pakaian loreng terasa menyerap terik matahari, dan punggung mulai basah oleh keringat.

Namun justru di sinilah terasa sebuah pelajaran penting: ketika berjalan bersama, batas antara pejabat dan rakyat terasa begitu dekat.

Semuanya sama-sama berjalan. Sama-sama berkeringat. Sama-sama lelah. Sama-sama membutuhkan semangat.

Sesekali terdengar pertanyaan sederhana dari Bupati:

"Bagaimana, masih kuat?"

Jawabannya pun hampir serempak:

"Siap!"

Meski napas sudah ngos-ngosan, ada kebanggaan tersendiri ketika mampu menjawabnya.

Memasuki kilometer 13 hingga 17, yang diuji bukan lagi sekadar kekuatan fisik, tetapi juga mental. Lagu-lagu perjuangan semakin membakar semangat. Yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri mulai saling mendekat, saling menyemangati, dan saling memastikan tidak ada anggota yang tertinggal.

Ketika garis finis mulai terlihat, rasanya seperti baru menyelesaikan sebuah "penugasan".

Uniknya lagi, sepanjang perjalanan ada saja warga yang menyapa dengan gaya militer. Ada yang bersalaman sambil berkata, "Siap 86, Komandan!"

Padahal kami hanyalah ASN yang sedang ikut menyemarakkan kegiatan Gerak Jalan 17 Kilometer.

Tetapi begitulah indahnya sebuah kegiatan bersama. Dalam satu momentum, semua bisa tertawa, bercanda, berkeringat, dan berbagi kebahagiaan.

Setelah tiba di garis finis, kamera ponsel pun menjadi buruan. Foto bersama menjadi bagian yang tidak kalah penting. Apalagi ada Bupati di tengah barisan loreng. Hampir semua ingin mengabadikan momen tersebut.

Bahkan baterai ponsel satu regu terasa cepat terkuras karena terlalu banyak mengambil foto dan video.

17 kilometer ternyata bukan hanya soal jarak.

Di dalamnya ada cerita, tawa, rasa lelah, kebersamaan, kekompakan, kebanggaan, bahkan kejadian-kejadian lucu yang mungkin tidak akan pernah terulang dengan suasana yang sama.

Berjalan bersama Bupati Dompu juga menghadirkan kesan tersendiri. Ada rasa bahwa kami bukan sekadar mengikuti sebuah kegiatan, tetapi sedang bersama-sama membawa nama baik daerah.

Walaupun berada di posisi paling belakang, saya pribadi justru menikmati perjalanan tersebut. Dari belakang, banyak hal bisa dilihat dan dirasakan: semangat anggota regu, dukungan masyarakat, kekompakan barisan, hingga perjuangan setiap orang untuk mencapai garis finis.

Malam harinya, badan terasa pegal. Kaki terasa berat. Tetapi cerita tentang perjalanan 17 kilometer seakan tidak pernah habis.

Seragam loreng mungkin belum sempat dicuci, tetapi foto-fotonya sudah beredar di grup WhatsApp dengan berbagai caption: "17 KM bareng Bapak Bupati. Itulah kenangan.

Kenangan yang suatu saat nanti akan diceritakan kembali kepada keluarga, sahabat, handai tolan, bahkan mungkin kepada anak cucu.

Sebab tidak setiap tahun kita mendapatkan kesempatan yang sama: mengenakan loreng, berjalan 17 kilometer di bawah terik matahari, dielu-elukan masyarakat, dan berada dalam satu barisan bersama Bupati Dompu.

Rasa capek, lelah, letih, bangga, haru, dan lucu bercampur menjadi satu.

Pada akhirnya, Gerak Jalan 17 Kilometer mengajarkan satu hal sederhana:

Kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihayati.

Jika para pahlawan dahulu berjuang dengan pengorbanan yang luar biasa demi kemerdekaan, maka tugas generasi hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan kebersamaan, kerja keras, persatuan, dan pengabdian terbaik bagi masyarakat dan daerah.

17 kilometermungkin selesai dalam sehari, tetapi kenangannya bisa tinggal sepanjang hayat.(Red)




Posting Komentar

0 Komentar