Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Kambeke Ana”, Perilaku Orang Tua yang Lengket di Hati Anak

 

Kambeke Ana”, Perilaku Orang Tua yang Lengket di Hati Anak


Oleh: Firmansyah, S.Psi., M.MKes. 

Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak dan Remaja

Media Transrevolusi group Com NTB.— Ada satu hal yang sering terlupakan dalam perjalanan membesarkan seorang anak: anak tidak hanya tumbuh dari apa yang kita katakan, tetapi jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat, rasakan, dan alami setiap hari. Orang tua adalah rumah pertama bagi seorang anak. 

Dari rumah, anak belajar mengenal kasih sayang, memahami batasan, mengenal tanggung jawab, belajar menghargai orang lain, sekaligus membentuk cara mereka melihat kehidupan.

Karena itu, kehadiran orang tua tidak sekadar penting, tetapi menjadi bagian yang sangat menentukan dalam proses tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak.

Dalam tradisi dan kehidupan masyarakat kita, ada ungkapan “Kambeke Ana” yang dapat dimaknai sebagai gambaran kedekatan, perhatian, dan keterikatan orang tua dengan anak. 

Kedekatan itu bukan semata-mata tentang selalu berada di tempat yang sama, tetapi tentang bagaimana seorang anak merasakan bahwa dirinya diperhatikan, dicintai, didengar, dan diterima.

Anak Tidak Selalu Mengingat Barang, Tetapi Mengingat Perlakuan Perilaku orang tua yang membekas di hati anak tidak selalu berupa hadiah mahal, rumah besar, pakaian bagus, atau liburan mewah.

Justru sering kali yang paling lama tinggal dalam ingatan anak adalah hal-hal sederhana yang dilakukan berulang-ulang.

Anak akan mengingat bagaimana ayah atau ibunya mendengarkan cerita mereka.

Ketika anak bercerita, orang tua meletakkan telepon genggam, menatap matanya, mendengarkan sampai selesai, dan tidak menganggap ceritanya sebagai sesuatu yang sepele.

Kelak ketika anak dewasa, mungkin mereka tidak mengingat percakapan secara detail. Tetapi mereka akan mengingat perasaan yang muncul saat itu: “Dulu, ketika aku bercerita, orang tuaku mau mendengarkan.”

Itulah kenangan yang melekat. Pelukan Kecil, Makna yang Besar

Pelukan ketika anak pulang sekolah, usapan di kepala ketika sedang sakit, menggandeng tangan ketika berjalan, atau sekadar duduk menemani anak sebelum tidur mungkin terlihat sederhana.

Namun bagi anak, semua itu adalah bahasa kasih sayang.

Sentuhan kecil tersebut menyampaikan pesan tanpa banyak kata: “Kamu tidak sendirian. Ada kami di sampingmu.”

Rasa aman yang dibangun sejak kecil dapat menjadi bekal emosional yang sangat berarti ketika anak menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupannya kelak.

Ritual Sederhana yang Menjadi Kenangan Makan bersama tanpa gangguan televisi dan telepon genggam, membaca cerita sebelum tidur, berjalan bersama di akhir pekan, beribadah bersama, atau sekadar duduk dan berbincang di teras rumah.

Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu mungkin terasa biasa bagi orang tua.

Namun bagi anak, pengulangan tersebut menciptakan rasa nyaman dan kepastian.

Rumah bukan hanya bangunan. Rumah adalah tempat di mana seorang anak merasa diterima dan memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri.

Anak Mengingat Cara Kita Marah

Ada satu hal yang juga perlu menjadi perhatian serius bagi orang tua: cara kita berbicara ketika marah.

Anak mungkin lupa berapa nilai ulangan yang pernah mereka dapatkan. 

Mereka mungkin lupa mainan apa yang pernah dibelikan.

Tetapi mereka bisa sangat lama mengingat kalimat yang pernah diucapkan orang tua kepada mereka.

Kalimat seperti, “Tidak apa-apa, kita coba lagi,” dapat menumbuhkan keberanian.

Sebaliknya, ucapan yang merendahkan, memberi label negatif, atau terus-menerus membandingkan anak dengan orang lain dapat meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat.

Orang tua tentu tidak harus sempurna. Orang tua juga manusia yang bisa lelah, kecewa dan marah.

Namun ketika melakukan kesalahan, keberanian untuk mengatakan, “Ayah/Ibu salah, maaf ya,” justru merupakan pendidikan karakter yang sangat berharga.

Dari sana anak belajar bahwa meminta maaf bukan tanda kelemahan. 

Mengakui kesalahan adalah bentuk kedewasaan.

Hargai Hal-Hal Kecil dari Anak

Bagi orang dewasa, gambar sederhana buatan anak mungkin hanya coretan.

Cerita tentang teman sekolah mungkin terdengar sepele.

Keberhasilan kecil yang diraih anak mungkin belum dianggap sebagai sebuah prestasi besar.

Tetapi bagi anak, perhatian orang tua terhadap hal-hal kecil tersebut berarti besar.

Ketika hasil gambar mereka dihargai, cerita mereka didengarkan, dan usaha mereka diapresiasi, anak belajar satu hal penting: “Aku dilihat. Aku didengar. Aku berarti.”

Perasaan itulah yang dapat menjadi fondasi kepercayaan diri seorang anak.

Anak Lebih Banyak Meniru daripada Mendengar Ceramah

Orang tua boleh memberikan nasihat sepanjang hari.

Namun perilaku orang tua sehari-hari sering kali menjadi pelajaran yang jauh lebih kuat.

Anak melihat bagaimana orang tuanya menghadapi kemacetan.

Anak melihat bagaimana orang tuanya memperlakukan tetangga.

Anak melihat apakah orang tuanya menepati janji.

Anak melihat bagaimana orang tuanya menghadapi kesulitan.

Anak juga melihat bagaimana orang tua memperlakukan orang yang lebih lemah dan bagaimana mereka menjalankan nilai-nilai agama serta kehidupan sosial.

Dari situlah anak belajar

Anak tidak hanya mendengar siapa kita. Anak melihat siapa kita.

Karena itu, pendidikan karakter sebenarnya dimulai jauh sebelum anak masuk sekolah. 

Pendidikan karakter pertama berlangsung di rumah, melalui contoh yang setiap hari mereka saksikan.

Jangan Pelit Mengucapkan Kasih Sayang Kalimat sederhana seperti, “Ayah sayang kamu,” “Ibu bangga sama kamu,” “Hati-hati di jalan,” atau “Terima kasih sudah membantu,” tidak membutuhkan biaya.

Tetapi jika diucapkan dengan tulus dan konsisten, kalimat-kalimat tersebut dapat menjadi sumber kekuatan bagi anak.

Jangan menunggu ulang tahun untuk mengatakan bahwa kita mencintai anak.

Jangan menunggu anak berhasil untuk mengatakan bahwa kita bangga.

Anak membutuhkan kasih sayang bukan hanya ketika mereka berprestasi, tetapi juga ketika mereka gagal, melakukan kesalahan, kecewa, dan sedang belajar menjadi dirinya sendiri.

Anak Tidak Membutuhkan Orang Tua yang Sempurna

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan ayah dan ibu yang selalu benar.

Anak membutuhkan orang tua yang mau hadir. Mau nmendengarkan. Mau memeluk.

Mau mengakui kesalahan. Mau memberikan kesempatan. Mau menjadi teladan. Dan yang paling penting, mau mencintai anak secara konsisten.

Sebab masa kanak-kanak tidak akan terulang.

Rumah yang penuh perhatian hari ini mungkin menjadi kenangan yang akan dibawa anak sampai mereka dewasa.

Mungkin suatu saat anak akan lupa hadiah apa yang pernah diberikan orang tuanya.

Mereka bisa lupa pakaian apa yang pernah dibelikan.

Mereka bahkan mungkin lupa tempat-tempat yang pernah dikunjungi bersama.

Tetapi mereka akan jauh lebih mungkin mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berada di dekat orang tuanya.

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa dicintai?

Apakah mereka merasa didengar?

Apakah mereka merasa diterima?

Di situlah pentingnya “Kambeke Ana", kedekatan yang tidak hanya terlihat dari keberadaan fisik, tetapi terasa dalam hati seorang anak.

Mari menjadi orang tua yang bukan hanya hadir di rumah, tetapi juga hadir di hati anak.

Karena pada akhirnya, warisan terbesar orang tua bukanlah harta yang ditinggalkan, melainkan karakter, nilai kehidupan, dan kenangan kasih sayang yang tertanam dalam diri anak.

Semoga tulisan sederhana ini menjadi bahan renungan bagi kita semua, terutama para orang tua muda, bahwa membesarkan anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga membangun kenangan dan karakter yang akan mereka bawa sepanjang kehidupan.(Redaksi)


Posting Komentar

0 Komentar