Hot Posts

6/recent/ticker-posts

Mengenang Jasa Para Pejuang Kesehatan Kabupaten Dompu Era 1960-an dan 1970-an

Mengenang Jasa Para Pejuang Kesehatan Kabupaten Dompu Era 1960-an dan 1970-an


Media TransRevolusi Group Com NTB. — Mengilas balik perjalanan pelayanan kesehatan di Kabupaten Dompu pada era 1960-an hingga 1970-an, kita akan diingatkan pada sejumlah sosok yang telah memberikan pengabdian luar biasa di tengah keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan.

Di antara nama yang patut dikenang adalah H. Arasul Ismail, Almarhum Ismail Abdullah, dan Almarhum Lukman M. Yunus. Ketiganya merupakan bagian dari para pejuang kesehatan yang pada masanya menunjukkan integritas, dedikasi, ketulusan dan keikhlasan dalam melayani masyarakat.

Bagi mereka, melayani masyarakat bukan sekadar pekerjaan. Pengabdian di bidang kesehatan dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab kepada bangsa, negara, masyarakat dan agama.

Mengabdi di Tengah Keterbatasan

H. Arasul Ismail hingga kini masih hidup dan menjadi salah satu saksi perjalanan panjang pelayanan kesehatan di Kabupaten Dompu. 

Kesaksiannya menjadi bagian penting dalam mengingat kembali bagaimana para tenaga kesehatan bekerja ketika fasilitas kesehatan masih sangat terbatas.

Berbeda dengan kondisi sekarang yang relatif lebih maju, Kabupaten Dompu pada era 1960-an dan 1970-an masih menghadapi berbagai keterbatasan. 

Rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan belum memadai, ketersediaan obat-obatan terbatas, jumlah tenaga kesehatan masih sedikit, sementara sarana transportasi dan kondisi jalan juga menjadi tantangan tersendiri.

Sementara itu, Almarhum Ismail Abdullah dan Almarhum Lukman M. Yunus telah lebih dahulu berpulang. 

Namun, semasa hidupnya keduanya telah meninggalkan jejak pengabdian yang kuat dalam pelayanan kesehatan masyarakat Dompu.

Keduanya dikenal luas dan sangat dekat dengan masyarakat. Karena kiprah dan kesehariannya dalam memberikan pelayanan kesehatan dari kampung ke kampung, masyarakat akrab menyapa keduanya dengan sebutan Mantri Samai untuk Almarhum Ismail Abdullah dan Mantri Lukman untuk Almarhum Lukman M. Yunus.

Nama tersebut bahkan tetap melekat dalam ingatan masyarakat hingga sekarang.

Dari Medan Perjuangan ke Pengabdian Kesehatan

Bagi H. Arasul Ismail dan Almarhum Ismail Abdullah, pengabdian di bidang kesehatan menjadi ruang pengabdian berikutnya setelah mereka kembali dari medan perjuangan Dwikora.

Keduanya kemudian menjalankan tugas sebagai pelayan kesehatan masyarakat sebelum akhirnya mengabdikan diri sebagai wakil rakyat melalui DPRD Kabupaten Dompu.

Dalam kondisi daerah yang serba terbatas, semangat pengabdian tersebut tidak pernah menyurutkan langkah mereka.

Mantri Samai, sebelum kemudian ditarik untuk bertugas di Dinas Kesehatan dan memperoleh ruang pengabdian yang lebih luas, pernah menjalankan tugas pelayanan kesehatan di Kecamatan Kempo dengan wilayah pelayanan yang mencakup desa-desa di Kempo, Manggelewa, Kilo hingga Pekat.

Sementara Almarhum Mantri Lukman menjalankan tugas pelayanan kesehatan di wilayah Desa Mbawi dan desa-desa di sekitarnya.

Keluar-Masuk Kampung, Bahkan Menginap di Tempat Tugas

Keterbatasan sarana mobilisasi membuat pelayanan kesehatan kala itu membutuhkan perjuangan yang tidak ringan.

Mantri Samai dan Mantri Lukman harus keluar masuk kampung, mendatangi warga dari satu desa ke desa lainnya. 

Tidak jarang mereka harus menginap di tempat tugas karena jarak dan kondisi jalan yang sulit ditempuh.

Pikiran mereka sederhana: masyarakat harus mendapatkan pelayanan kesehatan.

Berbagai penyakit yang saat itu banyak

 ditemukan di tengah masyarakat menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari para mantri kesehatan.

Penyakit menular dan infeksi menjadi salah satu persoalan yang banyak dihadapi karena kondisi sanitasi, ketersediaan air bersih dan pemenuhan gizi masyarakat masih terbatas.

ISPA dan pneumonia, termasuk keluhan batuk, pilek hingga radang paru-paru, juga menjadi penyakit yang sering ditangani, terutama pada anak-anak dan lanjut usia.

Diare dan disentri juga menjadi persoalan yang kerap dijumpai.

Sumber air yang masih banyak berasal dari sumur dan sungai, ditambah belum meratanya kepemilikan jamban keluarga, membuat anak-anak, khususnya balita, sangat rentan terhadap penyakit tersebut.


Malaria juga menjadi salah satu penyakit yang sering muncul. Di tengah keterbatasan obat dan fasilitas, para tenaga kesehatan tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Selain itu, TBC dan berbagai penyakit kulit juga menjadi perhatian dalam pelayanan kesehatan masyarakat kala itu.

Dibangunkan Tengah Malam Sudah Menjadi Hal Biasa

Suka dan duka menjadi bagian tidak terpisahkan dari perjalanan pengabdian para pejuang kesehatan tersebut.

Ketika sedang beristirahat di tempat tugas, bukan hal yang aneh apabila mereka dibangunkan tengah malam oleh keluarga atau warga karena ada pasien yang sakit keras atau membutuhkan penanganan segera.

Keterbatasan jumlah dokter, perawat, kendaraan dan fasilitas kesehatan membuat kehadiran seorang mantri kesehatan memiliki arti yang sangat besar bagi masyarakat di pelosok desa.

Mereka tidak mengenal waktu dalam memberikan pelayanan.

Ketika masyarakat membutuhkan, mereka berusaha hadir.

Dihormati Karena Ketulusan

Kehadiran para mantri kesehatan di tengah masyarakat juga mendapatkan tempat tersendiri di hati warga.

Ketika seorang mantri tiba di sebuah desa, masyarakat menyambut dengan penuh penghormatan. Tidak jarang warga menjamu mereka secara sederhana dengan makanan yang tersedia, seperti singkong bakar, ubi atau pisang rebus.

Namun, kesederhanaan jamuan tersebut justru memperlihatkan kehangatan hubungan antara tenaga kesehatan dan masyarakat.

Tidak ada jarak yang lebar. Tidak ada kemewahan. Yang ada adalah rasa saling menghargai, kepedulian dan hubungan kemanusiaan yang dibangun melalui pengabdian.

H. Arasul Ismail di Balik Kebijakan Kesehatan Jika Mantri Samai dan Mantri Lukman berada di garis depan pelayanan masyarakat, H. Arasul Ismail pada masa itu menjalankan tugas di Dinas Kesehatan.

Tugasnya berkaitan dengan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat dan daerah.

Ketiganya berada pada ruang pengabdian yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: bagaimana masyarakat Dompu mendapatkan pelayanan kesehatan di tengah segala keterbatasan yang ada.

Jejak Pengabdian yang Tak Lekang oleh Waktu

Kini zaman telah berubah. Fasilitas kesehatan semakin berkembang, tenaga medis semakin bertambah, teknologi semakin maju dan akses pelayanan kesehatan semakin luas.

Namun, kemajuan tersebut tidak seharusnya membuat sejarah pengabdian para pejuang kesehatan di masa lalu dilupakan.

H. Arasul Ismail, Almarhum Ismail Abdullah dan Almarhum Lukman M. Yunus adalah bagian dari sejarah panjang perjalanan kesehatan masyarakat Kabupaten Dompu.

Mereka bekerja bukan di tengah fasilitas yang serba lengkap, tetapi justru dalam keadaan yang penuh keterbatasan.

Mereka tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti mengabdi.

Mereka berjalan dari kampung ke kampung, menghadapi berbagai penyakit, menghadapi kondisi jalan dan transportasi yang sulit, bahkan harus meninggalkan waktu istirahat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.

Mantri Samai dan Mantri Lukman mungkin telah tiada, tetapi nama dan pengabdiannya tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Perjuangan dan pengorbanan para tokoh kesehatan tersebut tidak lekang oleh waktu. 

Jejak mereka menjadi bagian dari tinta emas sejarah pelayanan kesehatan Kabupaten Dompu sekaligus teladan bahwa pengabdian yang dilakukan dengan hati, ketulusan dan tanpa pamrih akan selalu dikenang oleh masyarakat.

Mengenang mereka bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga mengingatkan generasi hari ini bahwa pelayanan kepada masyarakat adalah sebuah pengabdian yang membutuhkan ketulusan, integritas dan keberanian untuk hadir di tengah mereka yang membutuhkan. (Red)


Posting Komentar

0 Komentar