![]() |
| Mengenali Anak Remaja Berkepribadian Ambivert dan Kecenderungan Perilakunya |
Oleh: Firmansyah, S.Psi., M.MKes.Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak Remaja
Media Transrevolusi Group Com NTB. – Program "Kambeke Ana" yang menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten Dompu patut diapresiasi sebagai upaya memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Lebih dari sekadar menghabiskan waktu bersama, program ini mengandung makna yang lebih dalam, yakni menghadirkan ruang bagi orang tua untuk mengenali karakter, kepribadian, dan kebutuhan perkembangan anak secara lebih utuh.
Di tengah derasnya arus informasi, pengaruh media sosial, serta perubahan gaya hidup remaja, memahami kepribadian anak bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan.
Banyak persoalan yang muncul pada masa remaja berawal dari kurangnya pemahaman orang tua terhadap cara berpikir, cara berinteraksi, dan kecenderungan perilaku anak.
Masa remaja merupakan fase pencarian jati diri yang penuh dinamika.
Pada tahap ini, seorang anak mulai membangun identitas, memperluas lingkungan pergaulan, serta belajar mengambil keputusan sendiri.
Karena itu, pendekatan pengasuhan tidak cukup hanya dengan aturan dan nasihat, tetapi juga harus dibangun di atas pemahaman terhadap karakter masing-masing anak.
Ketika orang tua mampu mengenali kepribadian anak sejak dini, mereka akan lebih mudah menentukan pola komunikasi, memberikan pendampingan yang tepat, serta mendeteksi perubahan perilaku yang berpotensi mengarah pada hal-hal negatif. Sebaliknya, potensi positif yang dimiliki anak dapat diarahkan dan dikembangkan secara maksimal.
Salah satu tipe kepribadian yang cukup banyak ditemukan pada remaja adalah ambivert, yaitu perpaduan karakter antara introvert dan ekstrovert.
Remaja ambivert tidak berada pada satu kutub tertentu, melainkan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sesuai situasi yang dihadapi.
Mereka dapat tampil percaya diri saat berada di tengah banyak orang, tetapi juga menikmati waktu menyendiri untuk memulihkan energi.
Dalam situasi tertentu mereka mampu menjadi komunikator yang aktif, sementara pada kesempatan lain mereka lebih memilih menjadi pendengar yang baik.
Kemampuan beradaptasi merupakan salah satu kekuatan utama remaja ambivert.
Mereka relatif mudah menjalin hubungan dengan teman baru tanpa meninggalkan kedekatan dengan lingkungan lamanya.
Mereka mampu bekerja sama dalam kelompok, tetapi juga tetap nyaman menyelesaikan pekerjaan secara mandiri.
Karakter lain yang menonjol adalah kecenderungan menyukai percakapan yang bermakna.
Mereka tidak selalu mencari keramaian, melainkan lebih menghargai hubungan yang berkualitas, saling menghormati, dan memberikan nilai positif bagi perkembangan dirinya.
Namun demikian, kepribadian ambivert juga memerlukan perhatian.
Karena mampu menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan, mereka berpotensi terpengaruh apabila berada dalam pergaulan yang kurang sehat.
Oleh sebab itu, pendampingan orang tua tetap menjadi faktor penting agar kemampuan adaptasi tersebut berkembang menjadi kekuatan, bukan menjadi kelemahan.
Di sinilah semangat "Kambeke Ana" menemukan relevansinya.
Kebersamaan sederhana di rumah, berbincang tanpa menghakimi, mendengarkan cerita anak, makan bersama, maupun melibatkan anak dalam aktivitas keluarga merupakan cara-cara efektif untuk mengenali perubahan sikap, emosi, dan perkembangan kepribadiannya.
Anak yang merasa didengar akan lebih mudah terbuka kepada orang tua. Sebaliknya, anak yang merasa diabaikan cenderung mencari tempat lain untuk memperoleh perhatian, yang belum tentu memberikan pengaruh positif bagi masa depannya.
Pada akhirnya, keberhasilan mendidik anak bukan semata-mata diukur dari prestasi akademik, melainkan juga dari keberhasilan membentuk karakter, kematangan emosi, kemampuan bersosialisasi, serta ketangguhan dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Mengenali kepribadian anak, termasuk memahami karakter ambivert, merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi.
Melalui keluarga yang hangat, komunikasi yang sehat, dan pendampingan yang konsisten, kita dapat melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak baik, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, daerah, dan bangsa.
Semoga semangat "Kambeke Ana" tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi budaya dalam setiap keluarga untuk lebih mengenal, memahami, dan mendampingi anak-anak kita menuju masa depan yang lebih baik.(Redaksi)

0 Komentar